untuk mama saya tercinta

pertama, selamat hari mama, untuk mama saya.

satu-satunya di dunia ini yang selalu ada bahkan ketika saya sedang di titik terendah dalam hidup saya.

mama saya bukanlah seorang wanita karir yang nggak pernah ada di rumah untuk menemani hari-hari saya.

mama saya bukanlah seorang wanita yang sibuk arisan sana-sini, shopping dari mall ke mall, atau perawatan kecantikan di salon ini itu.

mama saya bukanlah seorang wanita yang membiarkan saya pergi hingga jauh malam, membiarkan saya pulang dari kegiatan di sekolah atau kampus terlalu sore.

mama saya bukanlah seorang wanita yang nggak mengajarkan saya bagaimana cara menyapu, mengepel, merapikan tempat tidur, dan pekerjaan rumah lainnya.

tetapi,

mama saya adalah seorang wanita yang selalu bangun pukul 03.30 setiap hari untuk membantu perekonomian keluarga kami

mama saya adalah seorang wanita yang selalu me-missed call hp saya setiap pukul 05.00 karena tau saya nggak akan bangun dengan panggilan

mama saya adalah seorang wanita yang selalu mengawasi saya dan kegiatan saya, meskipun saya kadang jengkel dimarahin, nggakboleh ini itu

mama saya adalah seorang wanita yang mau mendengarkan keluhan keluhan saya tentang hidup, pacar, kuliah, teman, dan pengalaman-pengalaman saya

mama saya adalah seorang wanita yang selalu ada ketika saya mengalami suatu kegagalan, memeluk saya, dan menemani saya sampai saya kuat untuk berdiri sendiri

mama saya adalah seorang wanita yang selalu ada untuk saya, meskipun kadang saya nggak menginginkan keberadaannya.

meskipun mama saya lelah, sakit, bosan, dan saya kadang nggak peduli, mama saya tetap sabar meskipun kadang marah dengan perilaku saya

meskipun mama saya nggak sempurna, dan saya kadang jengkel dengan sikap-sikapnya, mama saya tetap tenang  dan mengikuti bagaimana anak gadisnya berkembang

mama saya, satu-satunya mama yang saya punya selamanya

mama saya, satu-satunya perempuan yang saya cintai

tanpa mengenal patah hati

kata-kata ini tentu nggak cukup untuk membalas semua kebaikan yang mama lakukan untuk membantu saya tetap hidup dan berkembang selama 18 tahun ini, karena kebaikan mama nggak akan pernah terbalaskan

terima kasih mama, jasamu tidak akan pernah aku lupakan

doamu akan selalu saya nantikan, karena restumu adalah restu Allah SWT.

i love you, mama 🙂

Advertisements

Antara Bencana Alam, Pemberitaan Media Massa, dan Masyarakat

Indonesia, begitu kita menyebutnya. Adalah sebuah negara yang berada dalam posisi geografis di antara dua benua,Asia dan Australia,  dan dua samudra, Hindia dan Pasifik. Menurut kacamata saya, Indonesia berada di daerah “sambungan”. Jauh di dalam bumi sana, adalah dua lempeng besar yang berusaha menstabilkan diri, istilahnya mencari posisi pewe (paling wuenak). Nah, untuk mencapai posisi ini, mereka saling bergerak menunjam, dan membuat efek di permukaannya.

Biasanya, cara yang paling mudah saya pakai untuk menjelaskan kepada teman-teman yang masih awam, kenapa banyak gunung berapi aktif di Indonesia, kenapa terjadi banyak sekali gempa di seluruh Indonesia kecuali Kalimantan adalah metode “mecotot”. Apa ya bahasa Indonesianya mecotot? hehehe. pokoknya, di antara dua sambungan itu, ada magma yang menyembul ke atas trus membentuk gunung. nah selama bergerak itu. lempeng tadi menimbulkan getaran yang disebut gempa bumi. selama lempeng tadi bergerak, dia membawa magma ke atas melalui gunung tadi.

Namun, kasus kali ini lumayan berbeda. Saya akan membahas secara khusus mengenai bencana Merapi. Pada awalnya, merapi nampak baik-baik saja. Kemudian, statusnya naik seiring dengan meningkatnya aktivitas dan akhirnya njeblug, mengeluarkan wedhus gembel, khas seperti letusan Merapi sebelumnya. Tetapi, kali ini Merapi tidak hanya meletus sekali. Erupsinya berkali-kali dan jarak luncur awan panasnya makin jauh. Kawasan Rawan Bencana (KRB) pun terus diperluas hingga mencapai 20km. Rumah saya yang masih di Jogja, yang notabene jauh dari Merapi, ikut merasakan hujan pasir, kerikil, dan abu. Hujan yang seperti ini baru saya rasakan sekali seumur hidup saya 18 tahun.

Dengan adanya aktivitas Merapi yang luar biasa seperti ini, media massa berbondong-bondong memberitakan perkembangan aktivitas merapi, dampak-dampaknya, bagaimana keadaan pengungsian, dan lain-lain yang berkaitan dengan bencana ini. Saya, sebut saja sebagai abg labil yang tidak begitu mengerti kode etik jurnalistik (maaf untuk semua peliput media yang mungkin membaca tulisan saya ini) mulai bisa mengerti mana berita yang menenangkan, mana berita yang dilebih-lebihkan, mana berita yang bohong, mana berita yang bikin panik orang di kawasan bencana, dan mana berita yang cari sensasi.

Beberapa hari yang lalu di timeline twitter saya, orang beramai-ramai menghujat sebuah stasiun televisi yang mengabarkan awan panas mencapai Jalan Kaliurang. Bukan hanya saya dan kawan-kawan yang menghujat televisi itu. Bahkan, seniman sekaliber Butet Kertarajasa pun ikut “mengomentari” berita televisi tersebut. Maka, televisi ini ramai disebut sebagai “tv oon” “tv hoax” “tv gamutu” dan sebangsanya di timeline saya.

Kemudian, sehari sebelum ini, sebuah acara infotainment di stasiun televisi terkemuka, menginfokan bahwa akan terjadi bencana yang lebih besar di Yogyakarta menurut ramalan ini itu, akan hancur, dan lain sebagainya. Saya sempat berpikir, “bukankah media harusnya meluruskan berita bohong yang disebar melalui sms itu?” Acara ini turut serta memberikan ramalan tentang letusan besar Gunung Merapi. Saya, yang lumayan mengerti masalah tentang gempa yang tidak bisa diramal, hanya tertawa melihat acara itu. Tetapi, bagaimana dengan orang awam yang sudah panik? Bagiaimana dengan mereka yang menjadi korban Merapi dan kemudian melihat acara ini? Bagaimana perasaan orangtua yang anaknya bersekolah di Jogja ketika kebetulan ia melihat acara ini? Saya tinggal di daerah yang terkena dampak Merapi. Dan saya juga pernah menjadi korban gempa bumi pada tahun 2006 lalu. Betapa paniknya saya ketika ada isu tsunami waktu itu.

Tolonglah untuk media massa, baik elektronik maupun cetak. Siarkanlah berita secara bijaksana, secara baik. Beritakan tentang kami kepada dunia, bahwa kami bergotong royong saling bahu membahu menangani bencana ini. Jangan siarkan berita-berita yang hanya memberi kerugian kepada orang yang mendengarnya. Jika anda memberikan berita yang baik, itu juga akan memberi citra yang positif terhadap stasiun anda kan? Kami di wilayah bencana ini sedang berusaha untuk bangkit dari bencana alam yang melanda kami. Bantu kami bangkit, jangan memblow-up berita yang belum tentu kebenarannya.

Saya juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh wartawan, jurnalis, reporter lapangan, kameraman, dan segenap crew media elektronik, media cetak yang tak henti memberi info terkini untuk kami semua, yang berkerja dengan berani di daerah bencana, jauh dari keluarga, dan mempertaruhkan nyawanya, serta tak henti menghimpun bantuan untuk membantu kami bangkit. Kami juga tak bisa berdiri sendiri, karena kita semua manusia yang saling membutuhkan.

Terima kasih juga untuk semua relawan, TNI, polri, TAGANA, dan semua pihak  yang bekerja di semua sektor, mulai dari dapur umum, penyelamatan korban, mengurusi pengungsi, mondar-mandir demi memberikan yang terbaik untuk kami yang terkena dampak letusan Merapi, kalianlah pahlawan sesungguhnya untuk kami.

Eh, kok jadi ngelantur ke mana-mana ya? Intinya:

JANGAN PERNAH PERCAYA DENGAN SMS YANG MEMBERITAHUKAN AKAN ADANYA GEMPA BESAR ATAU LETUSAN BESAR, karena gempa bumi tidak pernah bisa diramal oleh pihak manapun.

Akhir kata, Allah SWT selalu bersama kita semua, tetap berdoa dan berusaha dalam mengatasi bencana ini.

Mari, kita bergandengan tangan, gulung lengan baju, dan bangkit bersama.

Jogjakarta dan Jawa Tengah, kita kuat kok 🙂 #abglabilmodeon

bagaimana gambaran jogja saat ini?

Bayangkan Eye of Sauron adalah Tugu Yogyakarta.

Itulah kondisi Yogyakarta saat ini.

Eh, nggak deh. Terlalu lebay. Nanti saya dikira reporter tv-yang-namanya-nggak-boleh-disebut. Sebenernya, lebih mirip ini:

 

hujan abu sampe nutupin kaca mobil dan gabisa liat jalan

 

 

 

Sebuah Kesetiaan dan Kesederhanaan dari Lereng Merapi

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan

5 Februari 1927 – 26 Oktober 2010

Mungkin tak banyak orang tahu jika anda menanyakan seseorang bernama Raden Ngabehi Surakso Hargo, tapi coba tanyakan pada orang-orang, siapa ituMbah Maridjan. Pasti mereka akan mengenal orang ini. Laki-laki tua yang tinggal di lereng selatan Gunung Merapi. Apa sih, istimewanya simbah yang satu ini? Nampaknya beliau biasa saja. seperti sesepuh desa pada umumnya. Tidak neko-neko, bersahaja, dan ramah kepada semua orang.

Saya termasuk orang yang beruntung pernah menemui abdi dalem seperti Mbah Maridjan ini. Saat itu, beberapa bulan setelah Merapi erupsi tahun 2006, kami sekeluarga memutuskan untuk jalan-jalan ke Kaliadem, untuk melihat kawasan wisata yang katanya disapu wedhus gembel itu. Sepulangnya dari Kaliadem, kami berkunjung ke rumah Mbah Maridjan yang memang mendadak terkenal setelah erupsi Merapi 2006. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, kami menemukan banayk sekali mobil dengan plat luar daerah terparkir rapi di sepanjang jalan kecil menuju ke rumah Mbah Maridjan. Tujuan mereka jelas, ingin bertemu orang yang terkenal dengan julukan “roso-roso” dalam sebuah iklan minuman berenergi. Sesampainya di sana, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Kami belum mendapat giliran ketemu simbah. lantaran Mbah Maridjan ingin istirahat sebentar karena kelelahan setelah menemui banyak tamu dari pagi. Kami, seperti puluhan orang lainnya dengan sabar menunggu. Ternyata, sekelompok pengunjung dibatasi waktu kunjungan, kalau tidak salah hanya 30 menit.

Kami memasuki sebuah ruang tamu yang cukup luas dan ditata dengan banyak kursi untuk menampung para tamu yang ingin berkunjung. Di meja, terdapat puluhan air mineral gelasan dan berbagai macam kue kering khas pedesaan terhidang. Setelah kami semua masuk, Mbah Maridjan dengan lancar menceritakan bagaimana ia menjaga Gunung Merapi, mengapa ia tidak akan turun dari tempatnya tinggal, dan ia menunjukkan sebuah karikatur yang mengatakan dirinya “semelekete”. Mbah Maridjan mengatakan bahwa dia “orang bodo” yang sebenarnya menunjukkan kesederhanaan di tengah rendahnya mental wakil rakyat yang seolah tuli dengan keadaan rakyatnya.  Jempol tangannya yang bengkok menjadi ciri khasnya dan guyonannya berbeda dengan orang tua lainnya. gambar karikatur mbah maridjan semelekete

Selama pertemuan dengan Simbah, saya berusaha merekam pertemuan dengan sebuah handycam, tetapi sulit untuk mendapat wajah Mbah Maridjan secara utuh lantaran beliau enggan pertemuan ini didokumentasikan “ampun difoto mbak, mengke kulo ndak gedhe ndase, mengke mawon foto bareng-bareng hehehe”-jangan difoto (direkam) mbak, nanti saya bisa besar kepala, nanti saja foto bareng-bareng-red. sayangnya, kaset mini-dv yang merekam pertemuan saya itu, belum dapat saya temukan hingga kini.

Saat Merapi bererupsi 26 Oktober 2010 lalu, saya sangat berharap simbah dapat selamat dari maut seperti sebelumnya. Hingga dini hari saya menunggu kabar dari stasiun televisi yang dapat dipercaya, melalui situs jejaring sosial, dan sms. Malam itu, senang rasanya mendapat kabar bahwa simbah ditemukan selamat meskipun dalam keadaan lemas. Namun, kabar itu ternyata tidak benar. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saya menyetel televisi, dan pembawa berita mengatakan, Mbah Maridjan ditemukan meninggal dunia dalam keadaan bersujud.

Saya tidak peduli, Mbah Maridjan ditemukan sujud menghadap ke barat (Kiblat) atau ke selatan (Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat), di dapur, kamarmandi, masjid atau dimananpun, yang jelas, ada satu nilai yang dapat saya tangkap dari peristiwa ini.

Kesetiaan terhadap perintah adalah harga mati bagi Mbah Maridjan. Meskipun Sri Sultan Hamengkubuwono IX telah meninggal dunia dan tidak mungkin dapat mencabut perintah yang diberikannya, Mbah Maridjan tetap tunduk dan patuh terhadap perintah itu sampai akhir hayatnya.

Selamat jalan Mbah Maridjan. Semoga simbah mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya.

Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…

asam oksalat + kalium permanganat

larutan redoks

keren bukan?

kiri ke kanan: cocacola, teh, greentea, air gula oops, itu konsentrasi KMnO4 nya yang berbeda ;p

untuk pengendara motor

tolong dong, saya juga pengendara motor. kalo jawab sms atau telpon tu mbok ya berhenti di pinggir jalan. kalo anda smsan/telpon sambil naik motor itu beresiko kan ya? anda kan jadi nggak stabil naik motornya, konsentrasinya terpecah. tolong, balaslah sms anda yang penting dengan cara berhenti di pinggir jalan dan luangkan waktu 10-15detik untuk menjawab sms daripada 30detik dijalan untuk jawab sms dan membahayakan diri anda dan pengendara lain. kalo anda ketabrak atau nabrak, yang rugi siapa? anda juga kan?

my first experience: terjebak di dalam angin puting beliung

jadi ceritanya, kemaren sabtu (hampir) seluruh wilayah DIY disapu angin kencang.

itu inti ceritanya.

cerita sebenarnya, saya terjebak angin puting beliung.

cerita lengkapnya:

kemarin sabtu, pagipagi sekali saya sudah mempersiapkan diri untuk ke koskosan sugar (untuk anak2 sugargroupcompany) untuk ngerjain tugas makalah pengantar ilmu pertanian. karena hari itu juga saya harus mengumpulkan powerpoint bahasa indonesia, maka jadilah saya baru meninggalkan rumah jam setengah sebelas siang.

perjalanan saya menuju jalan kaliurang lancarlancar saja selain ada sedikit serempetan sama pengendara motor ugalugalan. setelah sampai, saya segera mengerjakan tugas, kemudian jam 1 siang saya meninggalkan koskosan temen saya tadi. saya mampir di toko baju kayla yang ada di selatannya karita jalan c.simanjuntak. niatnya mau update baju buat kuliah.

habis itu saya mampir makan pempek di depan mirota kampus, kemudian pulang. nah disinilah awal cerita dimulai. (daritadi apa coba)

kirakira jam dua, saya pulang lewat cikditiro terus ke selatan jalan suroto trus kridosono, anginnya udah mulai ga sepoi sepoi. mak wheeeeer wheeeeer gitu rasanya. saya masih mikir. ah mungkin mau hujan. karena meskipun di daerah kridosono terang benderang, daerah selatan gelap.

pas lewat jalan atmosukarto (gedung pamungkas) anginnya mulai nggak nyantai. kenceng bwaaanget. daundaun pada berjatuhan *tsah tapi saya masih berpikir, “ini mau hujan…” dan saya memacu kecepatan motor saya lebih kencang lagi.

lha pas naik jembatan layang…. anginnya whuzzzz whuzzzz whuzzzz banyak banget debu sama daundaun, dan sialnya lagi cuma dua pilihan jalan setelah turun dari jembatan layang. jalan gayam yang full pohon gedhe atau jalan tanjung yang full pohon tinggi2 beranting gede. pilihan bodoh saya jatuh kepada jalan tanjung. pohon2 yang ada di sana bergoyang goyang liar. rantingranting segede lengen udah mulai patah jatuh dan beterbangan. aku nambahin speed motor dan ga berani nengok ke belakang. naik motor udah gabisa tegak lagi karena rasanya kaya kedorong, ketarik, ditendang dari samping dsb dsb. disinilah driving skill saya diuji. empat tahun naik motor, baru kali ini rasanya bener2 lebih parah dari testdrive uji sim.

nah, parahnya lagi, mata saya mulai kelilipen, dan hal yang memperburuk, paginya, saya baru aja ngasih sellotip ke kaca helm saya biar nggak nutup terus karena sekrupnya longgar. berhenti di pinggir jalan ga mungkin (samaaja bunuhdiri) anginnya kenceng banget, jadilah tangankiri saya ngelepasin selotip satusatu sambil terus menstabilkan *halah* motor yang saya naiki.

ketika saya ngelepas selotip itu, saya inget bener. di pertigaan piri, sebelah kiri saya avanza warna gold itu, depannya (belok ke utara) tukang becak. tibatiba, tiang listrik yang ada disitu jatuh menimpa tukang becaknya dan mobil avanza, sambil nyeret ranting segede paha jatuh ke bawah. hwaaaaaaaaaaaaaaaa :(( saya langsung gemetaran pucat, setelah memastikan si pengendara baik2 aja saya langsung tancapgas pengen cepet2 pulang ke rumah. anginnya semakin kenceng, sementara di daerah sekitar mandalakrida banyak banget pohon besar tua tinggi -.-

seketika itu juga saya baru sadar kalau itu adalah angin puting beliung. saya langsung berdzikir, baca alfatihah, annas semua surat yang saya hafal. sementara orang2 dipinggir jalan mulai keluar dan saya masih ga berani nengok kebelakang.

sampe di rumah, saya nangis meluk mama sama bapak, dengan badan masih gemeteran, dan alhamdulillah masih diberi keselamatan untuk menceritakan pengalaman ini 🙂

Previous Older Entries