Antara Bencana Alam, Pemberitaan Media Massa, dan Masyarakat

Indonesia, begitu kita menyebutnya. Adalah sebuah negara yang berada dalam posisi geografis di antara dua benua,Asia dan Australia,  dan dua samudra, Hindia dan Pasifik. Menurut kacamata saya, Indonesia berada di daerah “sambungan”. Jauh di dalam bumi sana, adalah dua lempeng besar yang berusaha menstabilkan diri, istilahnya mencari posisi pewe (paling wuenak). Nah, untuk mencapai posisi ini, mereka saling bergerak menunjam, dan membuat efek di permukaannya.

Biasanya, cara yang paling mudah saya pakai untuk menjelaskan kepada teman-teman yang masih awam, kenapa banyak gunung berapi aktif di Indonesia, kenapa terjadi banyak sekali gempa di seluruh Indonesia kecuali Kalimantan adalah metode “mecotot”. Apa ya bahasa Indonesianya mecotot? hehehe. pokoknya, di antara dua sambungan itu, ada magma yang menyembul ke atas trus membentuk gunung. nah selama bergerak itu. lempeng tadi menimbulkan getaran yang disebut gempa bumi. selama lempeng tadi bergerak, dia membawa magma ke atas melalui gunung tadi.

Namun, kasus kali ini lumayan berbeda. Saya akan membahas secara khusus mengenai bencana Merapi. Pada awalnya, merapi nampak baik-baik saja. Kemudian, statusnya naik seiring dengan meningkatnya aktivitas dan akhirnya njeblug, mengeluarkan wedhus gembel, khas seperti letusan Merapi sebelumnya. Tetapi, kali ini Merapi tidak hanya meletus sekali. Erupsinya berkali-kali dan jarak luncur awan panasnya makin jauh. Kawasan Rawan Bencana (KRB) pun terus diperluas hingga mencapai 20km. Rumah saya yang masih di Jogja, yang notabene jauh dari Merapi, ikut merasakan hujan pasir, kerikil, dan abu. Hujan yang seperti ini baru saya rasakan sekali seumur hidup saya 18 tahun.

Dengan adanya aktivitas Merapi yang luar biasa seperti ini, media massa berbondong-bondong memberitakan perkembangan aktivitas merapi, dampak-dampaknya, bagaimana keadaan pengungsian, dan lain-lain yang berkaitan dengan bencana ini. Saya, sebut saja sebagai abg labil yang tidak begitu mengerti kode etik jurnalistik (maaf untuk semua peliput media yang mungkin membaca tulisan saya ini) mulai bisa mengerti mana berita yang menenangkan, mana berita yang dilebih-lebihkan, mana berita yang bohong, mana berita yang bikin panik orang di kawasan bencana, dan mana berita yang cari sensasi.

Beberapa hari yang lalu di timeline twitter saya, orang beramai-ramai menghujat sebuah stasiun televisi yang mengabarkan awan panas mencapai Jalan Kaliurang. Bukan hanya saya dan kawan-kawan yang menghujat televisi itu. Bahkan, seniman sekaliber Butet Kertarajasa pun ikut “mengomentari” berita televisi tersebut. Maka, televisi ini ramai disebut sebagai “tv oon” “tv hoax” “tv gamutu” dan sebangsanya di timeline saya.

Kemudian, sehari sebelum ini, sebuah acara infotainment di stasiun televisi terkemuka, menginfokan bahwa akan terjadi bencana yang lebih besar di Yogyakarta menurut ramalan ini itu, akan hancur, dan lain sebagainya. Saya sempat berpikir, “bukankah media harusnya meluruskan berita bohong yang disebar melalui sms itu?” Acara ini turut serta memberikan ramalan tentang letusan besar Gunung Merapi. Saya, yang lumayan mengerti masalah tentang gempa yang tidak bisa diramal, hanya tertawa melihat acara itu. Tetapi, bagaimana dengan orang awam yang sudah panik? Bagiaimana dengan mereka yang menjadi korban Merapi dan kemudian melihat acara ini? Bagaimana perasaan orangtua yang anaknya bersekolah di Jogja ketika kebetulan ia melihat acara ini? Saya tinggal di daerah yang terkena dampak Merapi. Dan saya juga pernah menjadi korban gempa bumi pada tahun 2006 lalu. Betapa paniknya saya ketika ada isu tsunami waktu itu.

Tolonglah untuk media massa, baik elektronik maupun cetak. Siarkanlah berita secara bijaksana, secara baik. Beritakan tentang kami kepada dunia, bahwa kami bergotong royong saling bahu membahu menangani bencana ini. Jangan siarkan berita-berita yang hanya memberi kerugian kepada orang yang mendengarnya. Jika anda memberikan berita yang baik, itu juga akan memberi citra yang positif terhadap stasiun anda kan? Kami di wilayah bencana ini sedang berusaha untuk bangkit dari bencana alam yang melanda kami. Bantu kami bangkit, jangan memblow-up berita yang belum tentu kebenarannya.

Saya juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada seluruh wartawan, jurnalis, reporter lapangan, kameraman, dan segenap crew media elektronik, media cetak yang tak henti memberi info terkini untuk kami semua, yang berkerja dengan berani di daerah bencana, jauh dari keluarga, dan mempertaruhkan nyawanya, serta tak henti menghimpun bantuan untuk membantu kami bangkit. Kami juga tak bisa berdiri sendiri, karena kita semua manusia yang saling membutuhkan.

Terima kasih juga untuk semua relawan, TNI, polri, TAGANA, dan semua pihak  yang bekerja di semua sektor, mulai dari dapur umum, penyelamatan korban, mengurusi pengungsi, mondar-mandir demi memberikan yang terbaik untuk kami yang terkena dampak letusan Merapi, kalianlah pahlawan sesungguhnya untuk kami.

Eh, kok jadi ngelantur ke mana-mana ya? Intinya:

JANGAN PERNAH PERCAYA DENGAN SMS YANG MEMBERITAHUKAN AKAN ADANYA GEMPA BESAR ATAU LETUSAN BESAR, karena gempa bumi tidak pernah bisa diramal oleh pihak manapun.

Akhir kata, Allah SWT selalu bersama kita semua, tetap berdoa dan berusaha dalam mengatasi bencana ini.

Mari, kita bergandengan tangan, gulung lengan baju, dan bangkit bersama.

Jogjakarta dan Jawa Tengah, kita kuat kok :) #abglabilmodeon

Advertisement

9 Comments (+add yours?)

  1. Tegas Bodoh
    Nov 08, 2010 @ 11:34:44

    Setuju sekali!!!

    kita emang harus bener-bener memilah informasi. Jogja memang sedang emergency, tapi juga penting tetap harus tenang dan gak boleh panik. Insya Allah pemerintah juga ada buat kita, buat rakyatnya.

    numpang lapak juga ya, hehe, permisiii.. :
    http://tegasramadhan.wordpress.com/

    Reply

  2. Tegas Bodoh
    Nov 08, 2010 @ 14:01:28

    siaappp.. :D mari saling kirim salam di blog :D

    newbi nih, hehehe

    Reply

  3. Blognya anak padmanaba
    Nov 10, 2010 @ 15:20:37

    mbak ayo tukeran link, http://cahyanugraha.wordpress.com

    linknya mbak udah aku pasang

    Reply

  4. Wayah Arna
    Nov 29, 2010 @ 18:35:01

    Yogyakarta Aman, Yogyakarta Tenteram, Yogyakarta Menyenangkan! Hidup Jogja!!!
    link blogku ya fer, tempatmu udah tak link lo :)

    Reply

  5. Wayah Arna
    Dec 03, 2010 @ 19:31:46

    Eh iya, malah lupa aku
    ini fer http://wayaharnaandika.blogspot.com

    Reply

  6. Heri Budianto
    Feb 21, 2011 @ 18:55:44

    Ass, mbak Agrinetafera. Sy Heri Budianto, dosen Ilmu Komunikasi Univ. Mercu Buana Jakarta. Saya akan menulis paper dan akan diterbitkan menjadi buku tentang “Jurnalisme Provokatif”. Saya tertarik mengutip tulisan artikel mbak diatas sebagai tambahan mengenai “kata hati” masyarakat yang hidup di daerah bencana. Semoga ini dapat bermanfaat bagi kita semua, dan kita dapat mendorong agar media massa dapat menjadi early warning system bagi masyarakat, bukan malah menakut-nakuti masyarakat. Terimakasih salam

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.