Sebuah Kesetiaan dan Kesederhanaan dari Lereng Merapi
06 Nov 2010 Leave a Comment
in artikel Tags: kali adem, kaliadem, kinahrejo, mbah maridjan, mbah marijan, merapi, roso roso
Mbah Maridjan
5 Februari 1927 – 26 Oktober 2010
Mungkin tak banyak orang tahu jika anda menanyakan seseorang bernama Raden Ngabehi Surakso Hargo, tapi coba tanyakan pada orang-orang, siapa ituMbah Maridjan. Pasti mereka akan mengenal orang ini. Laki-laki tua yang tinggal di lereng selatan Gunung Merapi. Apa sih, istimewanya simbah yang satu ini? Nampaknya beliau biasa saja. seperti sesepuh desa pada umumnya. Tidak neko-neko, bersahaja, dan ramah kepada semua orang.
Saya termasuk orang yang beruntung pernah menemui abdi dalem seperti Mbah Maridjan ini. Saat itu, beberapa bulan setelah Merapi erupsi tahun 2006, kami sekeluarga memutuskan untuk jalan-jalan ke Kaliadem, untuk melihat kawasan wisata yang katanya disapu wedhus gembel itu. Sepulangnya dari Kaliadem, kami berkunjung ke rumah Mbah Maridjan yang memang mendadak terkenal setelah erupsi Merapi 2006. Seperti yang sudah diduga sebelumnya, kami menemukan banayk sekali mobil dengan plat luar daerah terparkir rapi di sepanjang jalan kecil menuju ke rumah Mbah Maridjan. Tujuan mereka jelas, ingin bertemu orang yang terkenal dengan julukan “roso-roso” dalam sebuah iklan minuman berenergi. Sesampainya di sana, waktu menunjukkan pukul 12 siang. Kami belum mendapat giliran ketemu simbah. lantaran Mbah Maridjan ingin istirahat sebentar karena kelelahan setelah menemui banyak tamu dari pagi. Kami, seperti puluhan orang lainnya dengan sabar menunggu. Ternyata, sekelompok pengunjung dibatasi waktu kunjungan, kalau tidak salah hanya 30 menit.
Kami memasuki sebuah ruang tamu yang cukup luas dan ditata dengan banyak kursi untuk menampung para tamu yang ingin berkunjung. Di meja, terdapat puluhan air mineral gelasan dan berbagai macam kue kering khas pedesaan terhidang. Setelah kami semua masuk, Mbah Maridjan dengan lancar menceritakan bagaimana ia menjaga Gunung Merapi, mengapa ia tidak akan turun dari tempatnya tinggal, dan ia menunjukkan sebuah karikatur yang mengatakan dirinya “semelekete”. Mbah Maridjan mengatakan bahwa dia “orang bodo” yang sebenarnya menunjukkan kesederhanaan di tengah rendahnya mental wakil rakyat yang seolah tuli dengan keadaan rakyatnya. Jempol tangannya yang bengkok menjadi ciri khasnya dan guyonannya berbeda dengan orang tua lainnya. 
Selama pertemuan dengan Simbah, saya berusaha merekam pertemuan dengan sebuah handycam, tetapi sulit untuk mendapat wajah Mbah Maridjan secara utuh lantaran beliau enggan pertemuan ini didokumentasikan “ampun difoto mbak, mengke kulo ndak gedhe ndase, mengke mawon foto bareng-bareng hehehe”-jangan difoto (direkam) mbak, nanti saya bisa besar kepala, nanti saja foto bareng-bareng-red. sayangnya, kaset mini-dv yang merekam pertemuan saya itu, belum dapat saya temukan hingga kini.
Saat Merapi bererupsi 26 Oktober 2010 lalu, saya sangat berharap simbah dapat selamat dari maut seperti sebelumnya. Hingga dini hari saya menunggu kabar dari stasiun televisi yang dapat dipercaya, melalui situs jejaring sosial, dan sms. Malam itu, senang rasanya mendapat kabar bahwa simbah ditemukan selamat meskipun dalam keadaan lemas. Namun, kabar itu ternyata tidak benar. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saya menyetel televisi, dan pembawa berita mengatakan, Mbah Maridjan ditemukan meninggal dunia dalam keadaan bersujud.
Saya tidak peduli, Mbah Maridjan ditemukan sujud menghadap ke barat (Kiblat) atau ke selatan (Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat), di dapur, kamarmandi, masjid atau dimananpun, yang jelas, ada satu nilai yang dapat saya tangkap dari peristiwa ini.
Kesetiaan terhadap perintah adalah harga mati bagi Mbah Maridjan. Meskipun Sri Sultan Hamengkubuwono IX telah meninggal dunia dan tidak mungkin dapat mencabut perintah yang diberikannya, Mbah Maridjan tetap tunduk dan patuh terhadap perintah itu sampai akhir hayatnya.
Selamat jalan Mbah Maridjan. Semoga simbah mendapat tempat yang terbaik di sisi-Nya.
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…
